Tasawuf Underground, Melawan Stigma Negatif Anak “Punk”

101

Jakarta,

“Jangan heran melihat orang bertato shalat dan mengaji di masjid. Heranlah dengan orang tak bertato yang tak pernah shalat dan mengaji di masjid,”

Perkataan itu terucap di bibir Achil (28), seorang pemuda punk penuh tato di sekujur tubuhnya, yang memilih jalan berhijrah dengan bergabung di komunitas Tasawuf Underground.
Tasawuf Underground ini dibentuk oleh Halim Ambiya, seorang dosen di salah satu perguruan tinggi negeri di Jakarta, yang tergerak untuk membuat sebuah pergerakan mengaji di jalanan.
Setiap Jumat dan Sabtu mulai pukul 14.00 hingga 17.00 WIB, komunitas Tasawuf Underground ini rutin menggelar pengajian mulai belajar huruf hijaiyah hingga kajian pembenahan agama Islam dan mental di kolong jembatan Tebet, Jakarta Selatan. Dengan tujuan, mengenalkan kembali agama serta mengubah stigma masyarakat akan anak-anak punk dan jalanan.
Achil merupakan satu dari puluhan anak punk jalanan di Tebet yang kerap dicap sebagai salah satu masalah sosial. Melawan norma sosial, sekujur tubuhnya dipenuhi rajam tato, baju kucel, dan beranting menjadi ciri khas mereka.
Sembari menghela nafas dalam-dalam, Achil sadar bahwa suatu kewajaran apabila sebagian masyarakat masih memandang rendah anak-anak berpenampilan urakan.
Namun, kehidupannya mulai berubah sejak mengenal Halim Ambiya sejak awal 2019. Halim mengenalkan puluhan anak-anak jalanan untuk kembali belajar mengenal agama dan kehidupan yang lebih baik. Hanya beralaskan tikar dan baliho bekas kampanye, ia mengajarkan mengenai huruf Hijaiyah serta arti hidup di dunia.
Komunitas Tasawuf Underground ini telah ada sejak tujuh tahun yang lalu, namun baru berjalan di kolong jembatan Tebet pada akhir 2018. Mereka rutin belajar agama seperti membaca Iqra maupun kajian-kajian religi lainnya. Di komandoi Halim Ambiya, pendiri Tasawuf Underground, yang membimbing mereka melafalkan huruf Hijaiyah meski terbata-bata.
Halim menceritakan, gerakan Tasawuf Underground berawal dari kekhawatirannya terhadap anak-anak Punk jalanan. Asesoris yang melekat pada diri mereka selalu dikaitkan sebagai citra buruk oleh sebagian kalangan masyarakat. Ia meyakini bahwa setiap manusia memiliki hak dan kewajiban yang sama, baik di tataran sosial maupun hubungan bersama Tuhannya.
“Tiga tahun lalu ada fenomena di mana kaum urban tidak peduli dengan anak jalanan dan punk yang dianggap sampah. Sesuatu yang menggangu secara sosial, padahal ini merupakan efek dari banyak hal dari kehidupan kita,” ujar Halim.
Mengajak anak-anak jalanan untuk mengaji bukanlah perkara mudah. Lika-liku perjalanan mewarnai setiap langkah Halim. Namun, dengan tekad yang kuat serta pendekatan yang humanis, mereka secara perlahan mulai mau mengubah pola hidupnya. Mereka berasal dari berbagai latar belakang seperti pengamen, sopir angkot, kernet bus, hingga pengemis.
Saat ini terdapat 40 orang yang mengikuti kajian agama di kolong Jembatan Tebet. Dibantu sejumlah relawan lintas sosial, mereka belajar mengenai Islam dan menuju hidup yang lebih baik.

Anak-anak punk itu berasal dari berbagai wilayah seperti Depok, Bekasi, Tangerang, hingga provinsi lain seperti Jawa Timur. Mayoritas berasal dari sekitaran ibukota. Mereka yang berasal dari luar DKI, mulanya bermigrasi untuk mendapatkan kehidupan yang layak. Nasib tidak berpihak, mereka justru harus menyerah pada kerasnya kehidupan ibukota dan menggelandang di jalanan Jakarta.

Melawan stigma

Hidup di jalanan bukanlah menjadi pilihan mereka, namun kondisi lingkungan yang tak berpihak membuat anak-anak jalanan ini mau tak mau harus menyerah pada nasib. Mayoritas anak-anak punk jalanan ini korban dari kekerasan keluarga, perceraian, hingga ada yang tak tahu ayah maupun ibunya.

Identitas urakan yang melekat menjadi problema tersendiri. Mereka sadar bahwa mengubah pendangan masyarakat bukanlah perkara mudah. Namun, satu hal yang diyakini, bahwa Tuhan tak pernah gugur dalam menilai umatnya.
Waktu menunjukkan pukul 15.30 WIB, lantunan azan, lirih menggema semesta. Pria berbadan kurus mengingatkan yang lainnya untuk segera bergegas menuju masjid. Dia adalah Apriansyah (21).
Pria yang kedua tangannya dipenuhi rajahan tinta hitam adalah seseorang yang menghabiskan hari-harinya dengan memetik senar gitar kecilnya di kawasan Jakarta dan kolong jembatan depan stasiun Tebet. Tatapan matanya yang tajam, kulit legamnya yang terbakar matahari langsung mengubah pandangan negatif saat mengajak salat.
“Sebelum saya di kolong jembatan ini saya ngamen, nongkrong, ngamen muter nyari duit bolak balik ke Depok, Manggarai nyari duit, akhirnya nongkrong dekat stasiun sini” kenangnya sambil memegang tatonya.
Afriansyah bercerita, dulu ia tak pernah tahu akan huruf Hijaiyah atau tata cara menyucikan diri. Situasi berbalik saat ia bertemu dengan seseorang yang baru dikenali melontarkan pertanyaan.
“Dia bertanya,  Kamu tahu puluhan lagu, tapi berapa surat Alquran yang kamu hapal?” ucapnya menirukan.
Pertanyaan itu membuat dirinya merasa terpukul bahwa selama ini ia sangat jauh dengan Sang Pencipta. Berjalan jauh hingga ke Tebet, akhirnya ia menemukan wadah yang akan membuat hidupnya berubah dan merasa dekat dengan Tuhan.
Hal serupa dirasakan Irfan Saputra (20). Melawan stigma negatif memerlukan waktu yang panjang. Hidup sebagai anak punk, tidak jarang Irfan dipandang sebelah mata oleh orang-orang. Misalnya, orang-orang yang sedang bermain ponsel di angkot akan tiba-tiba memasukkan ponselnya ke dalam tas jika Irfan dan kawannya ngamen.
“Kadang kalau lewat kemana aja itu diliatin, diomongin dari belakang. Saya mah gak peduli lah orang saya gak ada niat apa-apa. Cuma niat menjemput rezeki,” ujarnya.
Menjadi orang yang tinggal di kolong jembatan dan pengalaman ditangkap satpol PP pun sering ia alami. Salah satunya adalah ketika dulu ia masih tidur di bawah kolong jembatan Matraman, Jakarta Timur pada tahun 2010. Satpol PP menangkapnya untuk kemudian dikirimkan ke Serpong, Tangerang. Di Serpong terdapat salah satu tempat dikumpulkannya para penyandang masalah kesejahteraan sosial.
Kini ia menemukan rumah baru dengan teman-teman yang sudah seperti keluarga sedarah. Jika, ada salah satu kawannya mengalami masalah, mereka bahu berupaya untuk membantu dengan catatan tidak melakukan aksi kriminalitas.
“Kami berkumpul tidak hanya mengaji tapi mengadvokasi teman-teman yang terkena masalah,” ujar Halim menimpali percakapan.
Stigma negatif perlahan mulai pudar meski perlu waktu panjang untuk benar-benar mengubah pandangan masyarakat. Hal itu tercermin dari berbagai relawan yang juga ikut membantu Halim mengajar. Seperti dilakukan Ahmad, seorang psikolog asal DKI Jakarta. Saat tidak ada pekerjaan menumpuk, ia selalu menyempatkan diri ke kolong jembatan Tebet.
Ia membantu puluhan anak-anak punk dalam hal Trauma Healing. Anak-anak punk diajarkan mengenai konsep hidup dan menjadi manusia yang lebih bermanfaat.
Para relawan lain pun membuka jalan kepada anak-anak punk untuk bisa meraih hak hidup yang layak. Beberapa orang di antara mereka bahkan telah bekerja sebagai barista di suatu kafe dan menjadi penjaga toko, sementara sisanya berjualan di depan Stasiun Tebet.
“Kami berharap agar mereka tidak bergantung hidup di jalanan tapi memiliki perkerjaan yang lebih menguntungkan bagi kehidupan mereka,” kata Halim.
Perjuangan untuk bisa lepas dari ketergantungan kehidupan jalanan pun secara perlahan hilang. Sebagian dari mereka tidak tidur di kolong jembatan, namun secara patungan untuk menyewa kamar kos di sekitaran Tebet.
Ia berharap, gerakan yang dibangun dapat menginspirasi masyarakat lainnya untuk melakukan hal serupa. Tak hanya di Ibukota saja, namun merambah ke seluruh daerah di Indonesia karena gerakan ini bukan hanya mengejar sisi duniawi semata, namun menjadi bekal di akhirat nanti. (Ant)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here